MANADO | NYIURNEWS.com – Sulawesi Utara memasuki babak baru. Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK), figur yang digadang-gadang melanjutkan tongkat estafet ODSK, memastikan pembangunan yang telah dirintis tidak akan terhenti. Dalam berbagai pertemuan, baik di gereja maupun dialog langsung dengan masyarakat, YSK menegaskan komitmennya untuk menjadikan Sulut lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih berdaya saing.
Salah satu prioritas utamanya adalah sektor kelautan dan perikanan. YSK menyadari bahwa kesejahteraan nelayan kepulauan adalah kunci pertumbuhan ekonomi berbasis maritim. Rencana pembangunan fabrik perikanan untuk menampung hasil tangkapan nelayan menjadi langkah strategis agar Sulut tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok perikanan nasional. Tak hanya itu, infrastruktur logistik dan kepariwisataan di pesisir akan diperkuat, menjadikan Sulut sebagai destinasi unggulan berbasis bahari.
Di sektor pertambangan rakyat, YSK tidak tinggal diam. Ia akan membentuk tim khusus guna mengakomodasi pengelolaan tambang rakyat secara legal dan ramah lingkungan. Ini adalah jawaban atas problem klasik yang selama ini membayangi sektor tambang di Sulut. Dengan tata kelola yang lebih baik, pertambangan rakyat bisa menjadi motor ekonomi tanpa merusak alam, sebuah keseimbangan yang jarang ditemukan di daerah lain.
Perhatian besar juga diberikan pada ketahanan pangan. Super HAP Bitung Lembeh menjadi salah satu prioritas, termasuk revitalisasi perkebunan kelapa di Bolmong Raya serta penguatan kawasan Agropolitan Modoinding. Langkah ini sejalan dengan strategi nasional Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan. Sulawesi Utara tidak hanya akan menjadi produsen, tetapi juga pemain utama dalam peta pangan nasional, termasuk sektor peternakan yang siap menopang kebutuhan protein nasional.
Respon masyarakat terhadap visi besar YSK pun menggema. Tokoh masyarakat Vence Pinontoan menyebut bahwa kebijakan ini harus mendapat dukungan penuh dari DPRD provinsi hingga kabupaten/kota. Sementara Ventje Rumambi menegaskan bahwa kepala daerah tidak boleh lagi berorientasi proyek semata, melainkan fokus membangun pertanian dan peternakan sebagai tulang punggung ekonomi daerah. YSK, menurutnya, membawa strategi fundamental untuk mengangkat Sulut keluar dari jebakan kemiskinan di pedesaan dan pesisir.
Dukungan serupa datang dari berbagai kalangan, termasuk analis ekonomi Delbert Mongan yang menyebut regulasi YSK sebagai “backbone” bagi percepatan pertumbuhan ekonomi Sulut. Bahkan, Kepala Dinas Kominfo Sulut Evans Steven Liow menegaskan bahwa YSK benar-benar akan melanjutkan warisan kebijakan Olly Dondokambey sebagai peta jalan pembangunan Sulawesi Utara ke depan. “YSK telah menegaskan arah kepemimpinan Sulut harus selaras dengan kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya. Kini, bola ada di tangan masyarakat: siapkah Sulawesi Utara melangkah menuju era kejayaan baru?
Penulis: Donny Liow.
Editor: Novita R.













