MANADO | NYIURNEWS.com – Selasa, (18/2) 2025 – Kejujuran adalah mata uang utama dalam dunia perdagangan. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berkata lain. Seorang konsumen, sebut saja Merlina., mengalami ketidaknyamanan ketika berbelanja di salah satu gerai minimarket ternama. Ia mengincar produk Minuman dingin yang dipajang dengan promo jelas: Beli 2 hanya Rp14.400. Namun, saat transaksi dilakukan, harga yang muncul di kasir justru harga normal.
Sebuah pertanyaan besar pun mengemuka: Apakah ini sekadar kesalahan teknis atau ada kelalaian yang dibiarkan? Jika satu konsumen saja mengalami ini, berapa banyak pembeli lain yang telah dirugikan dalam sehari? Dalam sebulan? Dalam setahun?
Nominal selisih yang tidak seberapa mungkin dianggap remeh bagi sebagian orang. Namun, bagi konsumen yang mengandalkan kejujuran sistem, ini bukan sekadar angka di layar kasir. Ini soal transparansi. Ini soal integritas.
Bayangkan, jika ada 100 orang per hari yang membeli produk serupa dan selisih harga hampir Rp5.000 per transaksi, berapa akumulasi dana yang “mengalir entah ke mana”? Bukan hanya tentang jumlah uang, tetapi tentang etika bisnis yang seharusnya dijunjung tinggi. Jika kesalahan ini terjadi pada satu produk, bisa jadi ada kasus serupa yang luput dari perhatian pelanggan lainnya.
“Sistem Tak Terbaca” atau Kelalaian yang Dibiarkan?
Saat Merlina. mempertanyakan ketidaksesuaian harga, jawaban yang diterima justru mengecewakan. “Oh, memang sistem, Bu, tidak terbaca.” Sebuah pernyataan yang seakan menjadi tameng instan untuk segala inkonsistensi.
Namun, pertanyaannya sederhana: Jika sistem tidak membaca promo, mengapa promo itu tetap terpajang? Jika ada kekeliruan dalam sistem, bukankah sudah menjadi tanggung jawab pihak toko untuk memastikan harga yang tertera sesuai dengan harga di kasir? Jawaban yang mengambang justru menimbulkan spekulasi liar.
Konsumen tidak meminta lebih dari yang seharusnya. Mereka hanya menginginkan kejelasan dan keadilan dalam bertransaksi. Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada merasa “tertipu” oleh sistem yang seharusnya melayani dengan transparan.
Minimarket sebagai ritel modern seharusnya memiliki prosedur ketat untuk memastikan tidak ada kesalahan harga, terlebih jika promo sedang berlangsung. Kesalahan manusia? Bisa dimaklumi. Namun, jika ini terjadi berulang kali, patut dipertanyakan apakah ini memang hanya kebetulan belaka.
Kejujuran dalam Bisnis: Pilar Utama Kepercayaan Konsumen
Bisnis ritel berkembang pesat karena kepercayaan. Sekali kredibilitas terguncang, konsumen akan berpikir ulang sebelum kembali berbelanja. Sebuah sistem yang tidak diimbangi dengan pengawasan ketat hanya akan menjadi celah bagi ketidakadilan kecil yang jika dibiarkan, bisa menjadi kebiasaan buruk.
Pada akhirnya, kejujuran bukanlah sekadar slogan di pintu masuk toko, melainkan praktik nyata di meja kasir. Bukan hanya soal uang, tetapi tentang bagaimana sebuah perusahaan menjaga integritasnya di mata konsumen. Jika masalah seperti ini terus terjadi, maka publik berhak menuntut transparansi, kejelasan, dan perbaikan sistem yang nyata. (Lole/*)













