Dari unggahan sederhana di media sosial, Jeane Laluyan menyalakan lentera kesadaran tentang kepemimpinan yang arif, adil, dan berjiwa besar.
Manado, NyiurNews.Com ▬ Dalam keheningan dunia maya yang sering diwarnai hiruk-pikuk politik dan opini tajam, Jeane Laluyan menulis sesuatu yang sederhana—namun menggigit dengan kedalaman makna. Ia berbagi sebuah refleksi ringan tentang dua makhluk kecil yang saling berbagi makanan, lalu menutupnya dengan kalimat yang bergetar oleh kebijaksanaan: bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar soal memutuskan, tetapi bagaimana keputusan itu tak menimbulkan luka bagi yang lain. Unggahan itu viral bukan karena sensasinya, melainkan karena kejujuran nurani yang jarang ditemukan di tengah riuhnya panggung kekuasaan.
Sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Jeane tak sekadar bicara tentang regulasi dan angka-angka. Ia mengajarkan lewat teladan dan refleksi—bahwa kebijakan yang benar lahir dari hati yang terdidik oleh nilai-nilai moral. Dalam setiap kalimatnya terselip pesan lembut: pemimpin yang arif bukan hanya pintar, tetapi mampu menakar adil dan salah dengan nurani yang tenang. Di tengah derasnya arus ambisi, Jeane hadir sebagai oase: sosok yang menuntun dengan ketulusan, bukan sekadar mengatur dengan kuasa.
//VIT*













