Luka di Tanah Wanga: Dua Nyawa Pergi dalam Sunyi

Avatar photo
Ket foto: Wanga berduka. Dua nyawa muda - Nikita dan Majesty - telah pergi, tersapu tanah runtuh. Jeritan mereka kini senyap, digantikan isak tangis keluarga. Hujan turun, seakan langit turut meratap. Selamat jalan, kalian tak akan dilupakan. (Foto: istimewa)

NYIURNEWS.com – Desa Wanga, yang biasanya tenang di pelukan pegunungan Minahasa Selatan, mendadak berselimut duka. Tanah longsor yang terjadi pada Rabu (29/1/) siang membawa duka mendalam, merenggut dua nyawa dan meninggalkan luka bagi keluarga yang ditinggalkan. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti diduga menjadi pemicu longsor, membuat tebing di ujung desa runtuh, mengubur harapan dan merenggut kehidupan. Nikita Pantow (21) dan seorang bocah kecil, Majesty Momongan (10), tak sempat menghindar. Mereka hanya ingin berteduh, tapi takdir berkata lain.

Detik-detik kejadian begitu cepat dan mencekam. Tanah bergemuruh, pepohonan tumbang, dan material longsor meluncur seperti gelombang maut. Pondok kecil tempat mereka berlindung berubah menjadi kuburan mendadak. Jeritan warga yang menyaksikan kejadian itu pecah di udara, bercampur dengan suara hujan yang masih enggan berhenti. Tim Basarnas segera diterjunkan, berpacu dengan waktu, berharap ada keajaiban di balik tumpukan tanah yang kini menelan dua insan muda.

Di tengah kepanikan, warga Desa Wanga dan Wanga Amongena bersatu dalam duka dan aksi nyata. Dengan tangan kosong dan sekop seadanya, mereka menggali, meraup tanah yang menutup tubuh Nikita dan Majesty. Butiran keringat bercampur air mata. Setiap gumpalan tanah yang mereka singkirkan adalah doa, harapan, dan ketakutan. Waktu terasa begitu lambat, namun harapan tetap menyala. Hingga akhirnya, dua tubuh itu ditemukan-diam, dingin, dan telah pergi selamanya.

Evakuasi berlangsung dramatis. Jalanan penuh lumpur, akses terhambat, namun tim penyelamat tetap berjuang. Kedua korban akhirnya dibawa ke Puskesmas Motoling untuk diperiksa. Tapi kenyataan pahit tak bisa dihindari – dua nyawa itu sudah tak lagi bernafas. Kesedihan menyelimuti desa, isak tangis keluarga pecah di antara sirene kendaraan penyelamat yang perlahan menjauh.

Kini, Desa Wanga tak lagi sama. Bukan hanya tanahnya yang longsor, tapi juga hati mereka yang kehilangan. Longsor ini bukan sekadar bencana alam, tetapi pengingat bahwa di balik keindahan alam, ada kekuatan besar yang bisa merenggut segalanya dalam sekejap. Dua nama telah pergi, namun jejak mereka tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang mencintainya. Desa Wanga berduka, dan luka ini akan butuh waktu lama untuk sembuh.

*Penulis: (Donny Liow/*)