Oleh: Daniel Robert
NyiurNews.com, Opini ━ Stunting masih merupakan masalah gizi yang berkepanjangan yang mempengaruhi secara luas kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, tingkat stunting di tingkat nasional mencapai 21,5%, yang masih jauh dari target nasional sebesar 14% pada tahun 2024.
Hal ini menunjukkan bahwa angka kekurangan gizi kronis masih sangat tinggi, terutama pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengurangi angka stunting adalah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak di sekolah dasar, ibu hamil, dan balita dari keluarga berpenghasilan rendah. Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama Goal 2: Zero Hunger dan Goal 3: Good Health and Well-being.

Program Makan Bergizi Gratis adalah sebuah inisiatif yang fokus pada perbaikan status gizi masyarakat dengan menjamin setiap anak memperoleh makanan bergizi sesuai kebutuhan sehari-hari. Konsep ini berlandaskan pada pemenuhan hak dasar akan pangan yang bergizi, seimbang, dan aman bagi seluruh masyarakat, terutama kelompok yang rentan.
Dalam hal pencegahan stunting, MBG berperan signifikan dalam memastikan anak-anak mendapatkan nutrisi makro dan mikro yang memadai, seperti protein hewani, zat besi, dan vitamin A. Penyediaan makanan bergizi secara rutin di sekolah dan posyandu diharapkan dapat meningkatkan kebiasaan makan yang sehat sejak dini, sekaligus mendukung perilaku gizi yang berkelanjutan dalam keluarga.

Program Makan Bergizi Gratis berhubungan langsung dengan beberapa tujuan SDGs. Goal 2 (Zero Hunger) menekankan pentingnya mengakhiri kelaparan, memperkuat ketahanan pangan, dan menjamin akses terhadap makanan bergizi bagi semua orang sepanjang tahun. Goal 3 (Good Health and Well-being) menyoroti pentingnya kesehatan ibu dan anak serta pencegahan penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi.
Selain itu, Goal 4 (Quality Education) juga berkaitan karena penyediaan makanan bergizi di sekolah dapat meningkatkan daya konsentrasi selama belajar dan prestasi akademik anak. Diharapkan penerapan program MBG di tingkat lokal tidak hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga memperkuat pencapaian indikator SDGs secara bersamaan, menciptakan sinergi antara kebijakan gizi, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Penerapan program Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi momen penting secara nasional untuk memperkuat ketahanan gizi keluarga dan mempercepat penurunan angka stunting. Harapan utama dari program ini adalah untuk menghasilkan generasi yang sehat, produktif, dan mampu bersaing melalui pemenuhan gizi seimbang sejak usia dini.
Selain itu, program MBG dapat mendorong perkembangan ekonomi lokal dengan memberikan dukungan kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM di daerah. Dengan pendekatan berbasis produk lokal, program ini dapat menguatkan ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung ekonomi masyarakat. Jika dilaksanakan secara berkelanjutan dan berdasarkan bukti, MBG berpotensi menjadi alat utama untuk mencapai Zero Stunting 2030 dalam konteks SDGs.
Meskipun mempunyai potensi yang besar, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis menghadapi sejumlah tantangan. Terbatasnya dana, permasalahan koordinasi antara berbagai sektor, serta ketidakmerataan akses terhadap pangan di berbagai daerah masih menjadi hambatan utama.
Selain itu, rendahnya pemahaman masyarakat akan gizi dan kurangnya pengawasan terhadap kualitas makanan bisa mengganggu efektivitas program tersebut. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan kebijakan yang memperkuat pengelolaan program, meningkatkan keterbukaan dalam pengadaan bahan pangan lokal, serta melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan — termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat.
Penting juga untuk memperkuat sistem pemantauan gizi yang berbasis data digital dan melatih kader gizi di lapangan guna menjamin keberhasilan jangka panjang. Dengan cara ini, Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi kebijakan populis, tetapi juga merupakan langkah strategis menuju pencapaian SDGs dan pembentukan generasi Indonesia yang bebas dari stunting.
Ditulis oleh: Daniel Robert
Mahasiswa Program Studi S-3 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makassar.













